Sejak aku terlahir ke dunia, sejak itu pula Allah mengajarkan aku untuk mencinta. Aku diberi kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang dia kirim untuk melindungiku. tersenyum saat aku butuh penguatan, merangkul saat aku butuh untuk bersandar. Dari mereka aku belajar cara mencintai. Umiku, abaku, mbahku, dan semua kluargaku. Aku bangga memiliki mereka.
Dan kini, Tuhan memberiku kesempatan sekali lagi untuk terus belajar mencinta. Dia tunjukkan kebesaran cintaNya dengan mengutus seseorang yang awalnya aku anggap biasanya saja, namun ternyata berhati besar untuk terus bersabar dan memahamiku. Selain keluargaku, dialah tempat ternyaman bagiku untuk berlabuh. Menceritakan banyak hal yang menurutku menyenangkan, dan mengeluhkan semua beban yang tak mampu aku redam seorang diri.
Sering aku merenung, menghitung berapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan padaku. Jangankan jariku, bahkan semua bilangan yang ada di dunia ini tak akan pernah mampu mewakilinya. Aku amat sangat bersyukur. Thanks Allah...
Dia berikan umi terhebat untukku. nilai 95 untuknya. Karena yang seratus hanya untuk Allah. Umi begitu perhatian dan protektif. Beliau telah mengajarkanku banyak hal. Cara untuk berbagi, mencintai, bersyukur, bersabar, dan satu hal yang selalu beliau ingatkan. Yaitu tentang iman. Di dunia yang kian renta ini, sudah langka ibu seperti umiku. Yang memprioritaskan akhirat. Nilai-nilai dasar yang beliau tanamkan, menjadi pondasi bagi hidupku. Agar aku tak goyah. Teman, kau tau. Aku ingin menjadi ibu seperti dia. Aku mencintainya..
Abaq.. seorang pria yang sabar. Sedikit bicara, namun penuh dengan tindakan, demokrasi namun tetap tegas. Beliau tak pernah sekalipun berkata mencintaiku. Tapi aku tak butuh semua ucapan itu. karena sikapnya, cukup memberi tauku segalanya. Sobat, kadang aku ingin sekali memeluknya seperti aku selalu memeluk umiku. Namun rasanya aku belum cukup memiliki keberanian. Tak apa lah, seperti beliau yang selalu menunjukkan rasa sayangnya dengan tindakan, akupun ingin begitu. Melakukan segala hal yang terbaik untuknya, agar kelak beliau mengerti betapa aku mencintainya.
Umi dan abaku adalah orang tua terhebat di dunia ini. Beliau sederhana, namun cukup membuatku merasa kaya dan bahagia. Jika aku ingin menjadi seperti umiku, maka aku ingin memiliki pendamping seperti abaku. Amin
Mbahku, beliau adalah janda tua yang hidup jauh dibawah kesederhanaan namun pantang menggantungkan diri pada orang lain. Aku tau betul, beliau sangat mencintaiku. Beliau perhatian, seperti halnya aba, beliau sedikit bicara namun penuh dengan tindakan. Dia wanita terkuat yang aku kenal, membesarkan abaku dengan penuh perjuangan dan berhasil membuat abaku seperti saat ini. Hanya wanita hebat yang sanggup melakukannya sobat. Sungguh aku bangga padanya. Besar penyesalan dalam diriku yang sampai saat ini belum mampu aku hapus. Aku tak hadir disaat detik detik menjelang kepergiannya. Aba melarangku pulang, aku tau keputusan aba selalu bijaksana, meski butuh waktu lama untuk memahaminya, aku putuskan untuk patuh saja. semoga ini yang terbaik, namun sampai saat ini rasa bersalah itu sering muncul. aku belum mampu memposisikan diriku sebagai cucu yang baik
Itulah orang yang selalu aku banggakan teman, dari beliau aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Pelajaran yang mungkin tak akan aku dapatkan dari seorang profesor sekalipun. Seperti halnya mereka mampu menjadi sosok terbaik untukku, Semoga kelak aku juga bisa menjadi cucu dan putri yang membakan untuk mereka. Amin


1 komentar:
aamiin..:)
Posting Komentar