Malam
ini, aku benar-benar merasa menjadi orang yang sangat kerdil. Orang yang hanya
sibuk memikirkan kebahagiaannnya sendiri tanpa mau menoleh sedikitpun pada
orang lain.
Tadi,
aku keluar untuk mencari makan malam di dekat pesantren tempat aku tinggal. Kebetulan,
aku sendiri. Tepat di depan tempat nasi goreng tujuanku, aku melihat ada
seorang bapak dengan pikulan keset yang terlihat sangat berat. Kuliatnya hitam
legam dan otot-ototnya terlihat amat
jelas. Dari raut wajahnya, bapak paruh baya itu terlihat amat lelah. Tubuhnya
berjalan dengan gontai dengan ekspresi wajah kebingungan. Bapak ini, jauh lebih
lunglai daripada pengemis yang biasa standby di depan mini market
sebelah warung nasgor itu. tapi dia masih mau bekerja keras demi memenuhi
kebutuhannya dan tak menyerah dengan cukup menadahkan tangan di depan
orang-orang yang lewat. Hidup memang keras, dan aku yang terbiasa tidur di
kasur dan bantal yang nyaman, makan dan minum dengan puas masih sering mengeluh
karena tak seberuntung orang diatas sana. Satu hal yang sering dilupakan banyak
orang adalah meluangkan sedikit waktunya untuk menunduk dan bersyukur.
tak terasa air mataku jatuhku, dadaku benar-benar sesak malam ini. Imanku masih sekecil debu dibelah seribu.
tak terasa air mataku jatuhku, dadaku benar-benar sesak malam ini. Imanku masih sekecil debu dibelah seribu.
Waktu
itu, hatiku tergugah untuk memberikan uang enam ribu yang hanya cukup untuk membeli
sebungkus nasi goreng. Namun dengan segera batinku memberi keputusan agar aku
tetap membelikan uang itu makanan dan mengisi perutku yang sebenarnya tidak
terlalu lapar serta membiarkan orang malang itu berlalu. Perasaanku begitu
lamban untuk menafsirkan bahwa bapak itu butuh bantuanku. Jauh lebih butuh
daripada perutku ini. Tak lama kemudian, aku melihat seorang cowok dengan
langkah cepat menyusul langkah bapak yang sempat ku abaikan tadi. Dari
mimiknya, cowok itu menawarkan makan dan si bapak mengiyakan. Hatiku semakin
koyak teman, ternyata bapak itu benar-benar membutuhkan bantuan dan aku hanya
diam. Ketika cwok itu tiba disampingku yang sedang menunggu pesanan, dia
benar-benar memesan sebungkus nasi untuk bapak tadi dan langsung pergi. Aku
kagum padanya, dia membangunkan aku dari kebutaan yang selama ini aku biarkan.
Ilmu agama yang selama ini aku dalami hanya sebatas teori sedang aplikasiku
begitu naif.
astaghfirullah,,,, maafkan hamba Allah,,,,,:’(
astaghfirullah,,,, maafkan hamba Allah,,,,,:’(

0 komentar:
Posting Komentar