RSS

Kisah yang Menggugah


Malam ini, aku benar-benar merasa menjadi orang yang sangat kerdil. Orang yang hanya sibuk memikirkan kebahagiaannnya sendiri tanpa mau menoleh sedikitpun pada orang lain.
Tadi, aku keluar untuk mencari makan malam di dekat pesantren tempat aku tinggal. Kebetulan, aku sendiri. Tepat di depan tempat nasi goreng tujuanku, aku melihat ada seorang bapak dengan pikulan keset yang terlihat sangat berat. Kuliatnya hitam legam  dan otot-ototnya terlihat amat jelas. Dari raut wajahnya, bapak paruh baya itu terlihat amat lelah. Tubuhnya berjalan dengan gontai dengan ekspresi  wajah kebingungan. Bapak ini, jauh lebih lunglai daripada pengemis yang biasa standby di depan mini market sebelah warung nasgor itu. tapi dia masih mau bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya dan tak menyerah dengan cukup menadahkan tangan di depan orang-orang yang lewat. Hidup memang keras, dan aku yang terbiasa tidur di kasur dan bantal yang nyaman, makan dan minum dengan puas masih sering mengeluh karena tak seberuntung orang diatas sana. Satu hal yang sering dilupakan banyak orang adalah meluangkan sedikit waktunya untuk menunduk dan bersyukur.
tak terasa air mataku jatuhku, dadaku benar-benar sesak malam ini. Imanku masih sekecil debu dibelah seribu.
Waktu itu, hatiku tergugah untuk memberikan uang enam ribu yang hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi goreng. Namun dengan segera batinku memberi keputusan agar aku tetap membelikan uang itu makanan dan mengisi perutku yang sebenarnya tidak terlalu lapar serta membiarkan orang malang itu berlalu. Perasaanku begitu lamban untuk menafsirkan bahwa bapak itu butuh bantuanku. Jauh lebih butuh daripada perutku ini. Tak lama kemudian, aku melihat seorang cowok dengan langkah cepat menyusul langkah bapak yang sempat ku abaikan tadi. Dari mimiknya, cowok itu menawarkan makan dan si bapak mengiyakan. Hatiku semakin koyak teman, ternyata bapak itu benar-benar membutuhkan bantuan dan aku hanya diam. Ketika cwok itu tiba disampingku yang sedang menunggu pesanan, dia benar-benar memesan sebungkus nasi untuk bapak tadi dan langsung pergi. Aku kagum padanya, dia membangunkan aku dari kebutaan yang selama ini aku biarkan. Ilmu agama yang selama ini aku dalami hanya sebatas teori sedang aplikasiku begitu naif.
astaghfirullah,,,, maafkan hamba Allah,,,,,:’(

0 komentar:

Posting Komentar